Mimpi Di Antara Rongga – Rongga Sekat

08.25



Catatan mengajar dipedalaman ‘Kota’
***
***

                Bogor 24 Februari 2017. Disinilah saya, masih belum sepenuhnya yakin bahwa saya bisa berhasil ada disini, diantara mereka. Orang – orang luar biasa yang berhasil membukakan mata saya, yang mampu menarik saya untuk terlibat dalam misi ‘menantang’. Ya, misi ini sangat memacu adrenalin saya, hebatnya sedari malam produksi hormon oksitoksin saya sangat meningkat. Bahkan pada pandangan pertama saja saya sudah sangat cinta dengan tim ini, dan tempat ini..
                Saat ini saya berada di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Tahukah teman? Untuk sampai di tempat ini, kami perlu menempuh perjalanan lebih dari 2 jam dengan menggunakan Tronton TNI (merupakan pengalaman baru bagi saya), dan disambung kembali dengan mobil pickup menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Total waktu ada 2,5 jam kami habiskan dengan medan yang sangat luar biasa! Bukan main, kami berangkat pukul 21.00 WIB sehingga gelapnya perkampungan sangat mencekam, belum lagi hujan lebat yang membuat perjalanan lebih ‘menarik’ heheh. Namun saya dibuat terkagum – kagum oleh tim ini, dalam penerangan yang minim, hujan yang sangat lebat, dan suhu yang dingin disertai sinyal telfon yang sulit. Semangat, keceriaan, dan rasa solidaritas sangat terpancar. Bahkan bagi saya seorang pendatang baru, rasa kekeluargaan berhasil saya rasakan.
                Sekitar pukul 23.00 kami disambut hangat oleh keluarga Bapak RT setempat, dan disinilah kami akan tinggal selama 3 hari kedepan. Sampai disana, energi kami bukannya habis malah semakin bertambah. Sejuknya udara sekitar, ditambah dengan pemandangan malam hari ala pedesaan berhasil menaikkan mood  kami. Selesai berbenah dan mengganti pakaian, kami dibagi lagi menjadi bagian kelompok yang lebih kecil, disesuaikan dengan tingkat kelas yang akan kami ajar. Saya dipilih untuk mengajar Bahasa Inggris untuk kelas 4 SD. Sekolah yang akan kami kunjungi adalah Sekolah Dasar Negeri Sinarwangi yang lokasi nya ada diatas bukti (sehingga dari rumah Bapak RT kami perlu menanjak melewati jalanan curam lagi). Proses brainstorming, diskusi, dan persiapan lainnya menghanyutkan kami, sehingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Akhirnya setelah persiapan selesai, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.
                Adzan subuh sayup – sayup berkumandang. Bagi kami istirahat 1,5 jam itu lebih dari cukup. Kami terlalu bersemangat untuk segera bertemu dengan adik – adik disana. Gerombolan laki – laki dengan sigap segera mengambil air wudhu dan berangkat ke surau. Sementara kami kelompok wanita bersiap untuk shalat sekaligus mandi. Berbeda dengan air yang ada di rumah, air di desa ini rasanya lebih dingin sekaligus menyegarkan. Selesai mandi kami segera menyiapkan makanan untuk sarapan di pagi ini, makanan yang disajikan adalah nasi liwet yang disajikan diatas daun pisang. “Biar kerasa kebersamaannya” menurut ketua pelaksana.
                Pukul 06.00 WIB, kami semua selesai berbenah diri. Sebelum berangkat menuju SDN Sinarwangi, kami melakukan briefing terakhir, mengecek segala kebutuhan, dan berdoa demi kelancaran bersama. Bismillahirahmannirrahiim... dengan wajah penuh senyuman kami melangkah mendaki bukit.
                Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika sampai di SDN Sinarwangi ini adalah.. sekolah ini berdiri berdampingan dengan jurang (meskipun tidak dalam, tapi berbahaya bagi anak – anak) dimana jurang itu dijadikan tempat pemakaman umum oleh warga sekitar. Selain itu pembatas antara jurang dan halaman sekolah pun hanya menggunakan pagar yang terbuat dari bambu. Sebuah ironi di kota besar yang dekat dengan pusat negara kita memang.
                Sebelum memulai pembelajaran di kelas masing masing, seluruh adik – adik SDN Sinarwangi kami ajak untuk berkumpul di halaman sekolah, disini kami mau memberikan edukasi sejak dini mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri terutama kebersihan gigi dan mulut. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan diikuti dengan antusias yang tinggi dari adik – adik disana. Tidak heran, karna penyampaiannya dikemas dengan menarik oleh salah satu anggota yang ahli di bidang ini.
                Selesai dengan acara di halaman sekolah, adik adik dipersilahkan masuk ke masing – masing kelasnya. Ada hal yang sangat unik ketika kita memasuki ruangan kelas, ternyata satu ruangan kelas nya dibagi lagi untuk digunakan oleh 2 tingkat. Dan hanya dibatasi oleh papan kayu setinggi bahu orang dewasa.
                Adik – adik dikelas 4 diagabung dengan adik adik dari kelas 3, dan ukuran kelasnya sendiri tidak lebih besar dari ukuran ruang kelas saya di kampus! Bisa dibayangkan bagaimana proses belajar – mengajar saat itu. Serba tidak kondusif, dan akhirnya kami sebagai tim pengajar kelas 4 bergantian dengan tim pengajar kelas 3 untuk memberikan materi. Dibalik kekhawatiran kami mengenai kondisi sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai. Kami melihat tatapan yang kami artikan sebagai tatapan antusias, semangat dan optimisme dari adik adik disana. Lalu saya tersadar mengapa Ibu Muslimah dalam cerita Laskar Pelangi begitu mencintai murid – muridnya . Sekalipun dari ruangan gelap yang beralaskan tanah berdebu, berdinding kayu yang bolong, dan beratapkan seng yang bocor dan hampir roboh, percayalah bahwa optimisme selalu dan akan selalu ada.
                Proses belajar mengajar kami cukup meriah, tapi jangan bayangkan adik – adik ini sama fasih nya berbahasa inggris dengan adik –adik diperkotaan, kurikulum disekolah ini mengajarkan bahasa inggris di mulai pada kelas 3 SD. Sehingga pada kenyataannya, banyak dari adik adik disini yang belum lancar bahkan untuk mengucapkan kalimat “My Name is...”
                Setelah proses belajar, kami berlanjut ke acara selanjutnya. Dan jujur, acara ini yang sangat saya sukai diantara serangkaian acara yang lain. Namanya sharing session. Yap, seperti yang teman teman bayangkan disini kami akan membentuk kelompok dari kelas yang kami ajarkan tadi, tiap kelompok terdiri dari 3-4 orang dan didampingi 1 orang pengajar. Disini kami akan saling berbagi mimpi dan bicara dari hati –kehat, memberikan dukungan, dan harapan bagi adik –adik disana. Bahwa mereka punya peluang yang sama besar, bahkan lebih dari adik – adik diperkotaan.
                Lucu memang, ketika harusnya saya yang memberikan banyak hal dari mereka. Justru merekalah yang meberikan banyak ilmu baru bagi saya.
Disaat saya sering mengeluh dengan macetnya perjalanan rumah menuju kampus
                Mereka bercerita bahwa, hujan dan jalanan curam yang licin sekalipun tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak berangkat ke sekolah. Ada siswa yang namanya Rivan, dia jadi ketua murid dikelasnya dan cita citanya jadi penyanyi hip –hop. Dia bercerita suatu hari hujan deras, Rivan mengenakan seragam merah – putih miliknya lengkap dengan atribut topi, dan dasi. Karna hujan, Rivan berangkat menggunakan sendal jepit. Sampai dikelas, gurunya menyuruh rivan kembali ke rumah karna menggunakan sendal jepit. Dan tahu kah kawan? Mungkin kalau saya jadi Rivan, saya akan pulang dan tidak kembali ke sekolah hari itu. Tapi Rivan bukan saya, Rivan kembali ke rumahnya, membawa sepatunya lalu jalan lagi menaiki bukit untuk ke sekolah.
Disaat saya mengeluh karna AC ruangan kelas yang padam
                Disana listrik PLN sangat seret masuk. Pada siang hari yang cerah tak menjadi soal karna ada cahaya matahari sehingga tak perlu menyalakan lampu. Namun pada sore hari, dan predikat Bogor sebagai Kota Hujan, jadi salah satu alasan penerangan yang tidak memadai. Padahal sekolah ini notabene nya adalah sekolah negeri yang mendapatkan disubsidi dari pemerintah.
Lalu disaat saya mengeluh merasa tidak punya buku buku baru, alat tulis baru, atau hal hal lainnya.
                Adik adik disini, masih ada yang menggunakan sendal jepit sebagai pengganti penghapus pensil. Masih ada yang menggunakan seragam kelas 1 SD nya hingga ke kelas 3. Masih ada yang sepatunya berkali kali di lem karna terus menganga.
Intinya yang selalu saya dapatkan dari perjalanan mengajar saya.
Saya menemukan, apa itu cinta dari mereka. Kegigihan, semangat, dan optimisme mereka dalam mengejar ilmu tiap harinya adalah bentuk cinta mereka bagi keluarga, agar punya kesempatan memberikan yang terbaik, agar bisa membuat tangis ibu – bapaknya bahagia.
***
Puas mendapatkan banyak ilmu dari adik adik disana, kini giliran kami memberikan sedikit dari apa yang kami punya untuk mereka disana. Kami melakukan “Pugar Sekolah”. Disini kegiatan kami merenovasi bagian bagian sekolah yang hampir rusak. Kami mengecat ulang tembok tembok sekolah yang warnanya pudar dan mulai mengelupas karna cuaca, membersihkan bagian – bagian sekolah yang kotor dan memiliki indikasi mengganggu kesehatan adik – adik disana.


Kami memang bukan pahlawan yang datang untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada, namun kami berjanji untuk selalu berusaha dan tidak patah semangat. Mungkin ada disaat kami lelah, sedih, dan mengeluh. Namun, kami berjanji untuk segera bangkit lagi, untuk memberikan senyum pada adik adik, untuk membuat belajar jadi menyenangkan, dan meyakinkan bahwa diantara ruangan ruangan gelap dengan sekat seadanya itu. Harapan selalu ada.
***
Tibalah di hari terakhir kami di desa yang jadi cinta pandangan pertama ini. Dipagi hari, kami bersama – sama melakukan olahraga ringan, karena rencana kami selanjutnya adalah pergi hiking! Destinasi petualangan kami adalah air terjun yang terletak di belakang desa Tanjolaya. Untuk bisa kesana, sekali lagi kami menaiki  mobil pickup untuk menaiki jalanan yang terjal. Kami, kelompok perempuan dipersilahkan untuk naik terlebih dahulu. Belum setengah dari perjalanan dengan mobil, tiba tiba bapak supir nya memberi tahu bahwa muatan mobil berlebih, sehingga ban belakang pecah, dan mobil tidak bisa maju lagi. Dengan perasaan yang dipaksa agar tidak panik (takut mobil tiba- tiba mundur) kami turun satu persatu. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi dengan jalan kaki.
Selain jalanan yang menanjak curam, kami melewati hamparan sawah yang luas. Saat itu banyak padi yang belum panen, sehingga aktifitas petani pun hanya sekitaran membajak atau menyiangi rumput – rumput liar.
Berbeda dengan orang orang di perkotaan, di sana semua orang tidak sungkan untuk bertegur sapa satu sama lain, bahkan dengan kami kelompok pendatang. Mereka dengan ramah, menyuguhkan berbagai macam bekal perjalanan seperti pisang rebus, atau hanya sekedar duduk di serambi rumah mereka untuk beristirahat sejenak.
Setelah melewati hamparan sawah, kami bertemu tantangan yang lain. Yaitu melewati sungai dengan debit air yang cukup deras. Disitu kami merasa diuji kekompakan, semua saling bahu membahu membantu satu sama lain. Saling berpegangan membentuk jembatan manusia, estafet barang – barang. Dan saling menyemangati.
Semua proses dan perjuangan selama di perjalanan terbayar sudah dengan keindahan air terjunnya. Air terjun disini belum banyak diketahui orang, hanya masyarakat setempat sehingga keasriannya masih sangat terjaga. Disana banyak hal yang kami lakukan, berfoto bersama, berenang, bermain air, dan banyak pula yang berdiskusi dengan topik masing – masing.
Hiking ini menjadi penutup rangkaian acara selama 3 hari, percayakah kawan? Hanya butuh waktu 3 hari dan kami berhasil membentuk kedekatan emosional yang cukup erat. Kami berpisah di tempat meeting pint kami pertama kali, dan banyak yang sampai meneteskan air mata.
Tapi alhamdulillah, hingga saat ini komunikasi kami masih terjalin baik. Group WhatsApp yang dibentuk awalnya untuk berkoordinasi sekarang tidak pernah sepi, selalu ada topik untuk kami bicarakan, bahkan bukan sekali atau dua kali kami mengadakan reuni, tapi sering!
Terimakasih kepada TNT 1000 Guru Bogor atas kesempatan yang luar biasa
Terimakasih teman teman TNT 1000 Guru Bogor @6 yang selalu on fire!
Terimakasih adik – adikku yang berhasil menjadi salah satu ‘Guru’ favoritku

Kami berkumpul dari berbagaimacam disiplin ilmu dan profesi
Doket, mahasiswa, karyawan, engineer, reporter, kontraktor, akuntan, dan Guru....
Tidak peduli siapa dirimu, apa pekerjaanmu, dan berapa besar gajimu. Kamu akan selalu punya hati yang luas untuk memberi kasih pada banyak orang...


               


               

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe