Mimpi Di Antara Rongga – Rongga Sekat
08.25
Bogor
24 Februari 2017. Disinilah saya, masih belum sepenuhnya yakin bahwa saya bisa
berhasil ada disini, diantara mereka. Orang – orang luar biasa yang berhasil
membukakan mata saya, yang mampu menarik saya untuk terlibat dalam misi ‘menantang’.
Ya, misi ini sangat memacu adrenalin saya, hebatnya sedari malam produksi hormon
oksitoksin saya sangat meningkat. Bahkan pada pandangan pertama saja saya sudah
sangat cinta dengan tim ini, dan tempat ini..
Saat
ini saya berada di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Tahukah teman? Untuk sampai
di tempat ini, kami perlu menempuh perjalanan lebih dari 2 jam dengan
menggunakan Tronton TNI (merupakan pengalaman baru bagi saya), dan disambung
kembali dengan mobil pickup menempuh
perjalanan sekitar 30 menit. Total waktu ada 2,5 jam kami habiskan dengan medan
yang sangat luar biasa! Bukan main, kami berangkat pukul 21.00 WIB sehingga
gelapnya perkampungan sangat mencekam, belum lagi hujan lebat yang membuat
perjalanan lebih ‘menarik’ heheh. Namun saya dibuat terkagum – kagum oleh tim
ini, dalam penerangan yang minim, hujan yang sangat lebat, dan suhu yang dingin
disertai sinyal telfon yang sulit. Semangat, keceriaan, dan rasa solidaritas
sangat terpancar. Bahkan bagi saya seorang pendatang baru, rasa kekeluargaan
berhasil saya rasakan.
Sekitar
pukul 23.00 kami disambut hangat oleh keluarga Bapak RT setempat, dan disinilah
kami akan tinggal selama 3 hari kedepan. Sampai disana, energi kami bukannya
habis malah semakin bertambah. Sejuknya udara sekitar, ditambah dengan
pemandangan malam hari ala pedesaan berhasil menaikkan mood kami. Selesai berbenah
dan mengganti pakaian, kami dibagi lagi menjadi bagian kelompok yang lebih
kecil, disesuaikan dengan tingkat kelas yang akan kami ajar. Saya dipilih untuk
mengajar Bahasa Inggris untuk kelas 4 SD. Sekolah yang akan kami kunjungi
adalah Sekolah Dasar Negeri Sinarwangi yang lokasi nya ada diatas bukti
(sehingga dari rumah Bapak RT kami perlu menanjak melewati jalanan curam lagi).
Proses brainstorming, diskusi, dan
persiapan lainnya menghanyutkan kami, sehingga tidak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 03.00 WIB. Akhirnya setelah persiapan selesai, kami
memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Adzan
subuh sayup – sayup berkumandang. Bagi kami istirahat 1,5 jam itu lebih dari
cukup. Kami terlalu bersemangat untuk segera bertemu dengan adik – adik disana.
Gerombolan laki – laki dengan sigap segera mengambil air wudhu dan berangkat ke
surau. Sementara kami kelompok wanita bersiap untuk shalat sekaligus mandi. Berbeda
dengan air yang ada di rumah, air di desa ini rasanya lebih dingin sekaligus
menyegarkan. Selesai mandi kami segera menyiapkan makanan untuk sarapan di pagi
ini, makanan yang disajikan adalah nasi
liwet yang disajikan diatas daun pisang. “Biar kerasa kebersamaannya”
menurut ketua pelaksana.
Pukul
06.00 WIB, kami semua selesai berbenah diri. Sebelum berangkat menuju SDN
Sinarwangi, kami melakukan briefing terakhir,
mengecek segala kebutuhan, dan berdoa demi kelancaran bersama. Bismillahirahmannirrahiim...
dengan wajah penuh senyuman kami melangkah mendaki bukit.
Hal
pertama yang menarik perhatian saya ketika sampai di SDN Sinarwangi ini adalah..
sekolah ini berdiri berdampingan dengan jurang (meskipun tidak dalam, tapi
berbahaya bagi anak – anak) dimana jurang itu dijadikan tempat pemakaman umum
oleh warga sekitar. Selain itu pembatas antara jurang dan halaman sekolah pun
hanya menggunakan pagar yang terbuat dari bambu. Sebuah ironi di kota besar
yang dekat dengan pusat negara kita memang.
Sebelum
memulai pembelajaran di kelas masing masing, seluruh adik – adik SDN Sinarwangi
kami ajak untuk berkumpul di halaman sekolah, disini kami mau memberikan
edukasi sejak dini mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri terutama
kebersihan gigi dan mulut. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan diikuti dengan
antusias yang tinggi dari adik – adik disana. Tidak heran, karna penyampaiannya
dikemas dengan menarik oleh salah satu anggota yang ahli di bidang ini.
Selesai
dengan acara di halaman sekolah, adik adik dipersilahkan masuk ke masing –
masing kelasnya. Ada hal yang sangat unik ketika kita memasuki ruangan kelas,
ternyata satu ruangan kelas nya dibagi lagi untuk digunakan oleh 2 tingkat. Dan
hanya dibatasi oleh papan kayu setinggi bahu orang dewasa.
Adik
– adik dikelas 4 diagabung dengan adik adik dari kelas 3, dan ukuran kelasnya
sendiri tidak lebih besar dari ukuran ruang kelas saya di kampus! Bisa dibayangkan
bagaimana proses belajar – mengajar saat itu. Serba tidak kondusif, dan
akhirnya kami sebagai tim pengajar kelas 4 bergantian dengan tim pengajar kelas
3 untuk memberikan materi. Dibalik kekhawatiran kami mengenai kondisi sarana
dan prasarana sekolah yang tidak memadai. Kami melihat tatapan yang kami
artikan sebagai tatapan antusias, semangat dan optimisme dari adik adik disana.
Lalu saya tersadar mengapa Ibu Muslimah dalam cerita Laskar Pelangi begitu mencintai murid – muridnya . Sekalipun dari
ruangan gelap yang beralaskan tanah berdebu, berdinding kayu yang bolong, dan
beratapkan seng yang bocor dan hampir roboh, percayalah bahwa optimisme selalu
dan akan selalu ada.
Proses
belajar mengajar kami cukup meriah, tapi jangan bayangkan adik – adik ini sama
fasih nya berbahasa inggris dengan adik –adik diperkotaan, kurikulum disekolah
ini mengajarkan bahasa inggris di mulai pada kelas 3 SD. Sehingga pada
kenyataannya, banyak dari adik adik disini yang belum lancar bahkan untuk
mengucapkan kalimat “My Name is...”
Setelah
proses belajar, kami berlanjut ke acara selanjutnya. Dan jujur, acara ini yang
sangat saya sukai diantara serangkaian acara yang lain. Namanya sharing session. Yap, seperti yang teman
teman bayangkan disini kami akan membentuk kelompok dari kelas yang kami ajarkan
tadi, tiap kelompok terdiri dari 3-4 orang dan didampingi 1 orang pengajar. Disini
kami akan saling berbagi mimpi dan bicara dari hati –kehat, memberikan
dukungan, dan harapan bagi adik –adik disana. Bahwa mereka punya peluang yang
sama besar, bahkan lebih dari adik – adik diperkotaan.
Lucu
memang, ketika harusnya saya yang memberikan banyak hal dari mereka. Justru
merekalah yang meberikan banyak ilmu baru bagi saya.
Disaat saya sering mengeluh
dengan macetnya perjalanan rumah menuju kampus
Mereka
bercerita bahwa, hujan dan jalanan curam yang licin sekalipun tidak menjadi
alasan bagi mereka untuk tidak berangkat ke sekolah. Ada siswa yang namanya
Rivan, dia jadi ketua murid dikelasnya dan cita citanya jadi penyanyi hip –hop.
Dia bercerita suatu hari hujan deras, Rivan mengenakan seragam merah – putih miliknya
lengkap dengan atribut topi, dan dasi. Karna hujan, Rivan berangkat menggunakan
sendal jepit. Sampai dikelas, gurunya menyuruh rivan kembali ke rumah karna
menggunakan sendal jepit. Dan tahu kah kawan? Mungkin kalau saya jadi Rivan,
saya akan pulang dan tidak kembali ke sekolah hari itu. Tapi Rivan bukan saya,
Rivan kembali ke rumahnya, membawa sepatunya lalu jalan lagi menaiki bukit
untuk ke sekolah.
Disaat saya mengeluh karna AC
ruangan kelas yang padam
Disana
listrik PLN sangat seret masuk. Pada siang
hari yang cerah tak menjadi soal karna ada cahaya matahari sehingga tak perlu menyalakan
lampu. Namun pada sore hari, dan predikat Bogor sebagai Kota Hujan, jadi salah
satu alasan penerangan yang tidak memadai. Padahal sekolah ini notabene nya
adalah sekolah negeri yang mendapatkan disubsidi dari pemerintah.
Lalu disaat saya mengeluh merasa
tidak punya buku buku baru, alat tulis baru, atau hal hal lainnya.
Adik
adik disini, masih ada yang menggunakan sendal jepit sebagai pengganti
penghapus pensil. Masih ada yang menggunakan seragam kelas 1 SD nya hingga ke
kelas 3. Masih ada yang sepatunya berkali kali di lem karna terus menganga.
Intinya yang selalu saya dapatkan
dari perjalanan mengajar saya.
Saya menemukan,
apa itu cinta dari mereka. Kegigihan, semangat, dan optimisme mereka dalam
mengejar ilmu tiap harinya adalah bentuk cinta mereka bagi keluarga, agar punya
kesempatan memberikan yang terbaik, agar bisa membuat tangis ibu – bapaknya bahagia.
***
Puas
mendapatkan banyak ilmu dari adik adik disana, kini giliran kami memberikan
sedikit dari apa yang kami punya untuk mereka disana. Kami melakukan “Pugar
Sekolah”. Disini kegiatan kami merenovasi bagian bagian sekolah yang hampir
rusak. Kami mengecat ulang tembok tembok sekolah yang warnanya pudar dan mulai
mengelupas karna cuaca, membersihkan bagian – bagian sekolah yang kotor dan
memiliki indikasi mengganggu kesehatan adik – adik disana.
Kami memang bukan pahlawan yang datang untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada, namun kami berjanji untuk selalu berusaha dan tidak patah semangat. Mungkin ada disaat kami lelah, sedih, dan mengeluh. Namun, kami berjanji untuk segera bangkit lagi, untuk memberikan senyum pada adik adik, untuk membuat belajar jadi menyenangkan, dan meyakinkan bahwa diantara ruangan ruangan gelap dengan sekat seadanya itu. Harapan selalu ada.
***
Tibalah di
hari terakhir kami di desa yang jadi cinta pandangan pertama ini. Dipagi hari,
kami bersama – sama melakukan olahraga ringan, karena rencana kami selanjutnya
adalah pergi hiking! Destinasi petualangan
kami adalah air terjun yang terletak di belakang desa Tanjolaya. Untuk bisa
kesana, sekali lagi kami menaiki mobil pickup untuk menaiki jalanan yang
terjal. Kami, kelompok perempuan dipersilahkan untuk naik terlebih dahulu. Belum
setengah dari perjalanan dengan mobil, tiba tiba bapak supir nya memberi tahu
bahwa muatan mobil berlebih, sehingga ban belakang pecah, dan mobil tidak bisa
maju lagi. Dengan perasaan yang dipaksa agar tidak panik (takut mobil tiba-
tiba mundur) kami turun satu persatu. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi
dengan jalan kaki.
Selain jalanan
yang menanjak curam, kami melewati hamparan sawah yang luas. Saat itu banyak
padi yang belum panen, sehingga aktifitas petani pun hanya sekitaran membajak
atau menyiangi rumput – rumput liar.
Berbeda dengan
orang orang di perkotaan, di sana semua orang tidak sungkan untuk bertegur sapa
satu sama lain, bahkan dengan kami kelompok pendatang. Mereka dengan ramah,
menyuguhkan berbagai macam bekal perjalanan seperti pisang rebus, atau hanya
sekedar duduk di serambi rumah mereka untuk beristirahat sejenak.
Setelah melewati
hamparan sawah, kami bertemu tantangan yang lain. Yaitu melewati sungai dengan
debit air yang cukup deras. Disitu kami merasa diuji kekompakan, semua saling
bahu membahu membantu satu sama lain. Saling berpegangan membentuk jembatan
manusia, estafet barang – barang. Dan saling menyemangati.
Semua proses
dan perjuangan selama di perjalanan terbayar sudah dengan keindahan air
terjunnya. Air terjun disini belum banyak diketahui orang, hanya masyarakat
setempat sehingga keasriannya masih sangat terjaga. Disana banyak hal yang kami
lakukan, berfoto bersama, berenang, bermain air, dan banyak pula yang
berdiskusi dengan topik masing – masing.
Hiking ini menjadi penutup rangkaian
acara selama 3 hari, percayakah kawan? Hanya butuh waktu 3 hari dan kami
berhasil membentuk kedekatan emosional yang cukup erat. Kami berpisah di tempat
meeting pint kami pertama kali, dan
banyak yang sampai meneteskan air mata.
Tapi alhamdulillah,
hingga saat ini komunikasi kami masih terjalin baik. Group WhatsApp yang
dibentuk awalnya untuk berkoordinasi sekarang tidak pernah sepi, selalu ada
topik untuk kami bicarakan, bahkan bukan sekali atau dua kali kami mengadakan
reuni, tapi sering!
Terimakasih kepada
TNT 1000 Guru Bogor atas kesempatan yang luar biasa
Terimakasih teman
teman TNT 1000 Guru Bogor @6 yang selalu on
fire!
Kami berkumpul dari berbagaimacam disiplin ilmu dan profesi
Doket, mahasiswa, karyawan, engineer, reporter, kontraktor, akuntan, dan Guru....
Tidak peduli siapa dirimu, apa pekerjaanmu, dan berapa besar
gajimu. Kamu akan selalu punya hati yang luas untuk memberi kasih pada banyak
orang...







0 komentar