REKAYASA LALU LINTAS - INOVASI MATERIAL UNTUK PEMBANGUNAN JALAN RAYA SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENCEGAHAN BANJIR DAN KEMACETAN DI INDONESIA

06.53



Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau melimpah dari bendungan sehingga air keluar dari sungai itu. 


Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik. (Wikipedia)


Indonesia sendiri terdiri dari beberapa kota besar, dimana banjir ini masih menjadi polemik sehari – hari dalam kegiatan perekonomian dan pendidikan masyarakatnya. Salah satunya Ibu Kota Jakarta, berdasarkan laporan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)  Jakarta di tanggal 15 Februari 2018. Banjir di jalan YOS Sudarso, Sunter Jaya mencapai ketinggian 10-20 cm. Dan upaya terakhir yang dilakukan oleh Dinas Sumber Daya Air adalah membersihkan limbah pembuangan air.


Selain daerah tersebut, berikut adalah update banjir di kawasan DKI Jakarta per 15 Februari 2018 pukul 13.00 WIB, yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB):
Jakarta Timur (5 RW)
Kayu Putih = RW 10, 11
Pulo Gadung = RW 04, 08
Rawamangun = RW 18

Jakarta Pusat (2 RW)
Kramat = RW 06
Paseban = RW 08

Jakarta Barat (27 RW)
Kalideres = RW 01, 16
Kamal = RW 01,02,03,04,05,06,07,08,09
Kapuk = RW 01,02,03,04,05,06,07,09,10,11,12,13,15,16
Rawa Buaya = RW 01
Tegal Alur = RW 15

Jakarta Utara (19 RW)
Ancol = RW 10
Kamal muara = RW 01, 02
Kelapa gading Barat = RW 20
Kelapa Gading Timur = RW 01,02,17,18,19
Lagoa = RW 03
Pegangsaan Dua = RW 02, 03, 04, 06,11, 16
Penjaringan = RW 12, 17
Sungai Bambu = RW 09

Jumlah:
Kabupaten Kota : 4
Kelurahan : 18
RW : 53



                Padahal sejak tahun 2014 alokasi anggaran untuk banjir di DKI jakarta sudah dinaikkan dari Rp  2,31 Triliun (APBD 2013) menjadi Rp 5,5 Triliun. Jumlah ini dipakai untuk normalisasi, pengerukan, pelebaran kali, pembebasan lahan bantaran, bangun rusunawa, dan pembuatan waduk baru di Jakarta. Belum lagi anggaran perbaikan untuk jalanan aspal rusak karna banjir. Adakah solusi sekaligus tindakan preventif lain yang bisa dilakukan? 

                Jawabannya ada.

                Salah satu diantaranya adalah dengan inovasi dari segi material pembentukan jalan. Berikut beberapa contoh inovasi material jalan telah ditemukan.


1.       Permeable Topmix


Permeable Topmix adalah teknologi terbaru dari beton yang dikembangkan oleh salah satu industri di UK, dimana beton ini diberi kemampuan untuk menyerap air sampai dengan 4.000 liter per menit dengan rata rata 600 liter per menit dalam satu meter persegi (m2)
Topmix Permeable memiliki daya serap sebesar 36.000 mm/jam. Dengan asumsi curah hujan paling tinggi sekitar 300 mm/jam, maka produk ini memiliki daya serap air 120x lebih cepat dari curah hujan itu sendiri. Sayangnya untuk detail teknis material dan metode pembuatannya belum diaungkap ke publik oleh Tarmac.
Untuk aplikasi perkotaan, terutama kota metropolis seperti Jakarta dan Surabaya, sepertinya produk ini sangat potensial. Air yg terserap dalam jalanan beton yang dibuat dengan konsep Topmix Permeable, dapat dialokasikan untuk dialirkan ke irigasi, saluran air untuk air minum, untuk penampungan di kolam, atau dialirkan kembali menuju muara sungai. Tinggal sistem penataannya yang perlu dikembangkan sebagai layer di bawah system Topmix Permeable.


2.       Geopori
Geopori merupakan racikan bahan pembuatan jalan sebagai pengganti beton atau aspal yang mampu menyerap air genangan di jalan. Bahan baku yang digunakan didapat dari bahan-bahan limbah industri berbahaya seperti limbah batu bara yang kerap dipandang tak punya nilai ekonomis. bahannya dari limbah industri B3. Itu jadi tindakan green environment, green product, dan green process.
Secara konstruksi, pembuatan jalan geopori tak jauh berbeda dengan proyek jalan menggunakan aspal atau beton. Daya serap geopori bisa mencapai 2.000 liter per menit per meter persegi. Bahkan, daya serapnya bisa jauh lebih besar menyesuaikan kebutuhan konstruksi.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe