love yourself!

00.30

You are responsible for your own happiness – anonymous
Seberapa sering kita mendengar  quotes diatas? Saya sering, setiap hari saya mengingatkan diri saya untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain, untuk melakukan apa yang saya mau maupun mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya memahami bahwa bahagia menjadi tanggung jawab diri saya sendiri. Tapi, susah sih
 ***
Saya menyaksikan sebuah video Tedtalks dari  Tracy McMillan on The Person You Really Need To Marry at TEDxOlympicBlvdWomen –  Menarik! Tracy McMillan adalah pengarang buku relationship dan penulis naskah TV. Diawal kisah ia menceritakan tentang dirinya yang sudah 3 kali menikah dan bercerai. So, yang saya harapakan adalah mendengar, belajar tentang kualitas orang seperti apa yang harus kita nikahi…agar saya bisa berbenah diri dan mengajarkan kekasih untuk mengajak memiliki kualitas tersebut. Namun sebaliknya; dalam tayangan 13 menit itu, bagaikan diberikan kaca berulang-ulang. Tracy menyatakan bahwa orang yang harusnya kamu nikahi terlebih dahulu (sebelum kamu menikahi orang lain) adalah dirimu sendiri.
 ***
Berdamai dengan diri sendiri
Dalam akhir video nya, Tracy mengajak kita mereview janji pernikahan dengan diri sendiri. Sudahkah kamu bisa mencintai dirimu sepenuhnya dalam keadaan sehat (happy) maupun sakit (desperateyour traumatic experience). Dalam keadaan kaya maupun miskin, susah maupun senang, hingga maut memisahkan (selamanya takkenal waktu)? Sebelum kita mampu mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri-memahami dan menerima diri sendiri, sehingga kaca yang kita gunakan untuk mencinta orang lain tidaklah buram.
 ***
Bila engkau jatuh cinta, akankah kamu menuntut orang yang kamu cintai atau justru kamu memberi sesuatu yang terbaik pada orang yang kamu cinta? Selain kak Tulus lewat lagunya “jangan cintai aku apa adanya“, nampaknya kebanyakan orang lebih suka konsep memberi.. Lalu, apa yang kita lakukan dengan orang yang seharusnya menjadi orang yang kita cintai ini (diri sendiri)? Seringkali kita menuntutnya untuk menjadi penanggung jawab kebahagiaan, bila tidak bahagia, maka harus review diri, apa yang salah, apa yang terjadi, apa yang harus diubah sekarang supaya bahagia? Akhirnya kebahagiaan instan yang kita cari, merokok, minum-minum, shopping, kongkow untuk just feel happy !
 ***
Hey, bung! Kita menuntut diri kita terlalu keras. Aku lebih suka “you have your rights to be happy“! Diriku berhak bahagia tanpa sebuah keharusan. Selain itu, diriku juga berhak tidak merasa bahagia, aku mau menerima diriku dalam perasaan-perasaan yang tidak nyaman, mendengarkan keluh kesah yang disampaikan hatiku dan memikirkannya dalam benakku, apa yang terjadi? Mengapa aku berpikir demikian? tanpa ada usaha untuk merasa bersalah atas ketidaknyamanan perasaan… itulah esensi self-acceptance. Penerimaan diri ini menjadi dasar untuk kita memiliki kemampuan untuk lebih agile secara emosi (susan david on emotional agility).
 ***
Mencintai diri sendiri bukan berarti tidak mau mencintai orang lain. Justru ini menjadi dasar terbaik untuk kita bisa mencintai orang lain dengan tulus tanpa menuntut mereka memenuhi kebutuhan emosional kita. Kalau dalam 7 habbits, dinyatakan bahwa setiap pribadi seharusnya bisa mencapai interdependency kesaling-tergantungan dengan orang lain, yang diawali dengan kemandirian, kebergantungan dengan orang lain dan diakhiri dengan adanya proses saling bergantung dengan orang lain, saling memberi dampak dengan orang lain.. Mulai dari mencintai diri kita dulu ya..
You have your rights to be happy!

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe